Lobar, Lagi Terapkan Padi Tehnologi Go Organic Farming
Seperti tahun sebelumnya, kabupaten Lombok Barat (Lobar) terus berinovasi dalam meningkatkan produktifitas tanaman padi. Salah satu teknologi yang diterapkan adalah Teknologi Organik Superfarm. Namun tahun 2011 ini, tehnologi pertanian yang menggunakan tehnologi pupuk kandang ini masih berlabel tehnologi Organik. Model ini diterapkan pada gelaran panen raya padi berlogo Lobar Organic Farming yang berlangsung di jalan lingkar Gerung Utara beberapa waktu lalu. Pada hari itu juga teknologi tersebut dilaunching oleh Bupati Lobar, H.Zaini Arony.
Teknologi Organik Farming ini merupakan program yang dicanangkan dalam rangka meningkatkan produktifitas pertanian dengan memperhatikan keseimbangan ekosistem dan lingkungan. Selain itu, teknologi yang dikelola oleh sejumlah Kelompok Tani ini, bekerjasama dengan PT Pupouk Kaltim, Sriwijaya dan Balitani Agro Persada ini, merupakan teknologi yang memperhatikan lingkungan dalam jangka panjang. Hal tersebut dikatakan Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Lobar, Ir.Khairul Bahtiar. “Teknologi ini cenderung mengantisipasi ketergantungan pada produk pupuk kimia atau sintetis di lahan pertanian,” katanya.
Kelebihan dari penerapan teknologi ini, kata Bahtiar, untuk mengembangkan dan mengoptimalkan tiga filosofi dasar pertanian. Filosofi tersebut adalah pengembalian kesuburan tanah, pemberian nutrisi dan pengendalian hama organik secara terpadu.
Dalam panen raya ini, sekaligus mengimplementasikan BLP (Bantuan Langsung Pupuk) dalam rangka percontohan menggunakan pupuk organik. Bahtiar menghajatkan, kegiatan ini untuk meningkatkan produksi dan produktivitas padi, jagung dan kedelai.”Pemanfaatan pupuk organik merupakan bagian dari ketahanan pangan untuk meningkatkan ketersediaan pangan nasional dan lokal,” katanya.
Dilaporkan, kalkulasi hasil panen yang diperoleh sebesar 8,8 ton per hektar. Sedangkan hasil rata-rata panen dengan metode konvensional sebesar, 6,4 ton per hektar. “Ini berarti ada peningkatan produktifitas sebesar 37,5 persen,” lanjut Bahtiar.
Di tempat yang sama, Bupati Lombok Barat (Lobar) H.Zaini Arony mengungkapkan, produktivitas padi di wilayahnya, tahun 2010 lalu mencapai 160 ribu ton di lahan seluas 31 ribu Hektar. Ini berdasarkan kutipan data dari BPS. Sementara untuk jagung kata Zaini, masih perlu dipacu produktivitasnya, karena saat ini masih memproduksi 11 ribu ton di atas lahas seluas 3 ribu hektar.
Hasil produksi padi menggunakan tehnologi organik ini, setelah dilakukan penyosohan atau penggilingan gabah hasil teknologi ini menghasilkan rendemen sebesar 70 persen, yaitu diperhitungkan dari gabah kering panen menjadi beras. Hasil inilah yang membuat para pengosoh atau pengilingan berani membeli gabah tehnologi organiuc Farming ini dengan harga tinggi dibanding gabah dengan pola konvensional.
Diakui Zaini, tahun sebelumnya Lobar terus berupaya mengurangi penggunaan pupuk kimia sintetis. Pihaknya menginginkan agar para petani beralih ke pupuk dengan tehnologi organik. Terlebih saat sekarang ini, trend di masyarakat Lobar lebih mengarah kepada pertanian organik dalam rangka mendukung ketahanan pangan. Naum Zaini meminta, jangan sampai melupakan, ketersediaan harus didukung oleh keterjangkauan produksi tanaman pangan. (L.Pangkat Ali)
Produktivitas Padi di Lobar Lampaui Target
Kepala Dinas Pertanian, Peternakan dan Perkebunan (Dipertanakbun) Lombok Barat (Lobar), Ir. Khairul Bahtiar kepada wartawan mengungkapkan, total produktivitas padi di wilayahnya terus mengalami peningkatan. Tahun 2009 silam, produktivitasnya mencapai 5,2 persen dari 50,8 kwintal per hektar. Tahun 2010, jumlah ini meningkat menjadi 52,79 kwintal per hektar. Produksinya juga mengalami peningkatan menjadi 4,8 persen dari 148.238 ton menjadi 155.332 ton.
Dijelaskan Bahtiar, tahun 2011 ini pihaknya masih merencanakan, total produktivitas naik sebesar 2,5 persen dari tahun yang pencapaiannya di atas terget. Untuk itu, lanjut bahtir, dalam rangka mengupayakan peningktanan tersebut, telah menerapkan sejumlah program. Salah satunya melalui program Sekolah Lapang Pengelola Tanaman Terpadu (SLPTT) padi. Program ini telah dinikmati oleh sekitar 46 ribu petani. Jumlah ini terbagi menjadi 663 kelompok tani (poktan) yang menyebar di seluruh wilayah Lobar. “Luas lahan sekitar 12 ribu hektar atau membentuk 480 unit SLPTT,” ungkap Bahtiar usai menggelar panen raya padi bertehnologi go organic farming di Gerung belum lama ini.
Menurut Bahtiar,dari 480 unit SLPTT, produktivitas padi di lahan seluas 495 hektar dan kedelai mencapai 1.500 hektar. Dengan menerapkan SLPTT ini, kata dia, telah terjadi peningkatan produksi menjadi 55,37 kwintal per hektar. “Produktivitas padi kita sudah lampaui target,” ujarnya. (L.Pangkat Ali)
Seperti tahun sebelumnya, kabupaten Lombok Barat (Lobar) terus berinovasi dalam meningkatkan produktifitas tanaman padi. Salah satu teknologi yang diterapkan adalah Teknologi Organik Superfarm. Namun tahun 2011 ini, tehnologi pertanian yang menggunakan tehnologi pupuk kandang ini masih berlabel tehnologi Organik. Model ini diterapkan pada gelaran panen raya padi berlogo Lobar Organic Farming yang berlangsung di jalan lingkar Gerung Utara beberapa waktu lalu. Pada hari itu juga teknologi tersebut dilaunching oleh Bupati Lobar, H.Zaini Arony.
Teknologi Organik Farming ini merupakan program yang dicanangkan dalam rangka meningkatkan produktifitas pertanian dengan memperhatikan keseimbangan ekosistem dan lingkungan. Selain itu, teknologi yang dikelola oleh sejumlah Kelompok Tani ini, bekerjasama dengan PT Pupouk Kaltim, Sriwijaya dan Balitani Agro Persada ini, merupakan teknologi yang memperhatikan lingkungan dalam jangka panjang. Hal tersebut dikatakan Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Lobar, Ir.Khairul Bahtiar. “Teknologi ini cenderung mengantisipasi ketergantungan pada produk pupuk kimia atau sintetis di lahan pertanian,” katanya.
Kelebihan dari penerapan teknologi ini, kata Bahtiar, untuk mengembangkan dan mengoptimalkan tiga filosofi dasar pertanian. Filosofi tersebut adalah pengembalian kesuburan tanah, pemberian nutrisi dan pengendalian hama organik secara terpadu.
Dalam panen raya ini, sekaligus mengimplementasikan BLP (Bantuan Langsung Pupuk) dalam rangka percontohan menggunakan pupuk organik. Bahtiar menghajatkan, kegiatan ini untuk meningkatkan produksi dan produktivitas padi, jagung dan kedelai.”Pemanfaatan pupuk organik merupakan bagian dari ketahanan pangan untuk meningkatkan ketersediaan pangan nasional dan lokal,” katanya.
Dilaporkan, kalkulasi hasil panen yang diperoleh sebesar 8,8 ton per hektar. Sedangkan hasil rata-rata panen dengan metode konvensional sebesar, 6,4 ton per hektar. “Ini berarti ada peningkatan produktifitas sebesar 37,5 persen,” lanjut Bahtiar.
Di tempat yang sama, Bupati Lombok Barat (Lobar) H.Zaini Arony mengungkapkan, produktivitas padi di wilayahnya, tahun 2010 lalu mencapai 160 ribu ton di lahan seluas 31 ribu Hektar. Ini berdasarkan kutipan data dari BPS. Sementara untuk jagung kata Zaini, masih perlu dipacu produktivitasnya, karena saat ini masih memproduksi 11 ribu ton di atas lahas seluas 3 ribu hektar.
Hasil produksi padi menggunakan tehnologi organik ini, setelah dilakukan penyosohan atau penggilingan gabah hasil teknologi ini menghasilkan rendemen sebesar 70 persen, yaitu diperhitungkan dari gabah kering panen menjadi beras. Hasil inilah yang membuat para pengosoh atau pengilingan berani membeli gabah tehnologi organiuc Farming ini dengan harga tinggi dibanding gabah dengan pola konvensional.
Diakui Zaini, tahun sebelumnya Lobar terus berupaya mengurangi penggunaan pupuk kimia sintetis. Pihaknya menginginkan agar para petani beralih ke pupuk dengan tehnologi organik. Terlebih saat sekarang ini, trend di masyarakat Lobar lebih mengarah kepada pertanian organik dalam rangka mendukung ketahanan pangan. Naum Zaini meminta, jangan sampai melupakan, ketersediaan harus didukung oleh keterjangkauan produksi tanaman pangan. (L.Pangkat Ali)
Produktivitas Padi di Lobar Lampaui Target
Kepala Dinas Pertanian, Peternakan dan Perkebunan (Dipertanakbun) Lombok Barat (Lobar), Ir. Khairul Bahtiar kepada wartawan mengungkapkan, total produktivitas padi di wilayahnya terus mengalami peningkatan. Tahun 2009 silam, produktivitasnya mencapai 5,2 persen dari 50,8 kwintal per hektar. Tahun 2010, jumlah ini meningkat menjadi 52,79 kwintal per hektar. Produksinya juga mengalami peningkatan menjadi 4,8 persen dari 148.238 ton menjadi 155.332 ton.
Dijelaskan Bahtiar, tahun 2011 ini pihaknya masih merencanakan, total produktivitas naik sebesar 2,5 persen dari tahun yang pencapaiannya di atas terget. Untuk itu, lanjut bahtir, dalam rangka mengupayakan peningktanan tersebut, telah menerapkan sejumlah program. Salah satunya melalui program Sekolah Lapang Pengelola Tanaman Terpadu (SLPTT) padi. Program ini telah dinikmati oleh sekitar 46 ribu petani. Jumlah ini terbagi menjadi 663 kelompok tani (poktan) yang menyebar di seluruh wilayah Lobar. “Luas lahan sekitar 12 ribu hektar atau membentuk 480 unit SLPTT,” ungkap Bahtiar usai menggelar panen raya padi bertehnologi go organic farming di Gerung belum lama ini.
Menurut Bahtiar,dari 480 unit SLPTT, produktivitas padi di lahan seluas 495 hektar dan kedelai mencapai 1.500 hektar. Dengan menerapkan SLPTT ini, kata dia, telah terjadi peningkatan produksi menjadi 55,37 kwintal per hektar. “Produktivitas padi kita sudah lampaui target,” ujarnya. (L.Pangkat Ali)
|
| ||||||||||||||||||||||||
Tidak ada komentar:
Posting Komentar