Selasa, 22 Maret 2011

Balap Kuda di Pantai Lakey Dompu


Lomba ketangkasan balap kuda alias pacoa jara bagi masyarakat Suku mbojo benar-benar telah menjadi tradisi. Joki cilik, yang usianya baru terhitung lima tahun keatas terlihat menjadi penambah semangat setiap penonton yang melihat lomba pacuan kuda ini. Langit gelap di atas pantai Lakey Desa Hu’u, Kabupaten Dompu, Sabtu (4/12) seperti bukan menjadi penghalang bagi para pecinta kuda untuk mempersiapkan kuda pacuannya. Hujan deraspun di pagi itu sempat mengguyur pantai kawasan tempat surfing terindah itu. Namun, hal itu tidak pula menyurutkan semangat untuk berlomba para peserta.

Adalah Udin, salah seorang pemilik kuda yang dinamai Kalantika terlihat pagi sedang membersihkan kuda pacuan joki jagoannya. Pria yang hanya mengenakan katok dan telanjang dada ketika ditanya wartawan tampak malu-malu. Ia mengatrakan, sebelum berlaga kuda terlebih dulu memang harus dipersiapkan.

Laksana sang jagoan, si Kalantika diperlakukan. Setelah membersihkan badan, ramput kuda berwarna merah ini di sisir. Tidak saja ramput di kepala dan leher kuda, ekor si Kalantika itu pun tidak luput dari perhatian Udin untuk dirapikan.

Setelah tampak bersih, kuda pun diberikan minum air gula. Sebotol air gula berukuran 1.500 mili liter habis ditumpahkan dalam ember dan diberikan kepada Kalantika. Mungkin karena haus, atau suka minum gula Kuda besar ini terlihat minum habis air gula tersebut. Diberikannya air gula itu ternyata sebagai penambah tenaga sang Kuda. Dipastikan, dengan tambahan “multivitamin” tenaga kuda akan lebih besar dan tentu bisa berlari lebih kencang.

Ternyata tidak saja Udin dengan Kuda Kalantikanya. Puluhan peserta lainnya pun melakukan hal yang sama. Bersih-bersih kuda sebelum dipertandingkan. Setelah bersih dan minum cairan penguat tersebut, sang Kuda Pacu pun dihiasi sedemikian rupa. Tali khusus sebagai pegangan joki yang diikatkan di leher dan mulut kuda dipasang. Uniknya, warna tali ini pun beragam dan seperti sengaja dihiasi guna menambah cantik penampilan kuda pacuan.

Seusai tali pengait leher kuda terpasang. Sebagai penambah gaya, tidak terlupakan sarung kebesaran kuda dipasangkan. Kain dengan hiasan khusus ini dimiliki masing-masing kuda pacu yang handal. Tertulis di atas kain dan, “Kalantika” menandakan kuda tersebut adalah si Kalantika. Beberapa menit kemudian, Udin pun membawa kudanya ke arena balap. Sepanjang bibir pantai Lakey bersamaan dengan puluhan saingannya.

Teriakan penonton di sepanjang bibir pantai pun menandakan dimulainya lomba pacoa jara ini. Terlihat dalam barisan para penonton, para turis-turis asyik melihat aksi hebat para joki cilik tersebut. Sepanjang pantai Lakey, Sabtu pagi itu menjadi sejarah pertama katanya pacoa jara itu digelar di Pantai Hu’u Dompu.

Diterangkan H. Soehartomo, SKm. MMPm kepada wartawan di sela acara Pacoa jara,  mengatakan digelarnya kegiatan tersebut karena ingin menambah daya tarik sendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Pantai Lakey. Pacoa jara di pantai, akunya menjadi pembeda antara pacoa jara di daerah lain.

Inilah nantinya yang digadang menjadi icon baru. Dengan pacoa jara di pantai bisa menjadi grand image bagi Dompu dengan pantai Lakey-nya. “Ingat Lakey tidak saja ingat tempat surfing, namun juga ingat pacoa jara-nya,” terangnya. Hajatannya, kegiatan itu akan menjadi event tahunan yang siap menjadi daya pikat bagi wisatawan yang datang berkunjung. 

Berbeda memang dengan pacoa jara di medan yang tidak berpasir. Kuda terlihat lebih berat berlari. Terlebih saat itu, pantai tidak terlalu luas. Membuat kuda pacu lebih kerap melaju ke luar arena. Syukurnya tidak sampai menerjang para penonton. (ozi) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar