Kamis, 27 Mei 2010

Sejarah Terbentuknya Kabupaten Lombok Timur

Pada masa penjajahan Belanda Pulau Lombok dan Bali dijadikan satu wilayah kekuasaan pemerintahan dengan status Karesidenan dengan ibukota Singaraja berdasarkan Staabtlad Nomor 123 Tahun 1882 kemudian berdasarkan Staatblad Nomor 181 tahun 1895 tanggal 31 Agustus 1895 Pulau Lombok ditetapkan sebagai daerah yang diperintah langsung oleh Hindia Belanda. Staatblad ini kemudian disempurnakan dengan Staatblad Nomor 185 Tahun 1895 dimana Lombok diberikan status “Afdeeling” dengan ibukota Ampenan. Dalam afdeeling ini Lombok dibagi menjadi dua Onder Afdeeling yaitu Onder Afdeeling Lombok Timur dengan ibukota Sisi’ (Labuhan Haji) dan Onder Afdeeling Lombok Barat dengan ibukota Mataram, masing-masing Onder Afdeeling diperintah oleh seorang Contreleur (Kontrolir).

Untuk Lombok Timur dibagi menjadi 7 wilayah kedistrikan yaitu Pringgabaya, Masbagik, Rarang, Kopang, Sakra, Praya dan Batukliang. Akibat pecahnya perang Gandor melawan Belanda tahun 1897 dibawah pimpinan Raden Wirasasih dan Mamiq Mustiasih maka pada tanggal 11 Maret 1898 ibukota Lombok Timur dipindahkan dari Sisi’ ke Selong. Selanjutnya dengan Staatblad Nomor 248 tahun 1898 diadakan perubahan kembali terhadap Afdeeling Lombok yang semula 2 menjadi 3 Onder Afdeeling yaitu Lombok Barat, Lombok Tengah dan Lombok Timur. Untuk Onder Afdeeling Lombok Timur terdiri dari 4 kedistrikan yaitu Rarang, Masbagik, Sakra dan Pringgabaya. Dalam perkembangan berikutnya dibagi lagi menjadi 5 distrik yaitu:

  1. Rarang Barat dengan ibukota Sikur dipimpin oleh H. Kamaluddin
  2. Rarang Timur dengan ibukota Selong dipimpin oleh Lalu Mesir
  3. Masbagik dengan ibukota Masbagik dipimpin oleh H. Mustafa
  4. Sakra dengan ibukota Sakra dipimpin oleh Mamiq Mustiarep
  5. Pringgabaya dengan ibukota Pringgabaya dipimpin oleh L. Moersaid

Seiring dengan terbentuknya daerah Swatantra Tingkat I Nusa Tenggara Barat dengan Undang-Undang Nomor 54 Tahun 1958 maka dibentuk pula 6 (enam) Daerah Tingkat II dalam lingkungan Propinsi Daerah Tingkat I Nusa Tenggara Barat berdasarkan Undang-Undang Nomor 59 Tahun 1958. Secara yuridis formal maka daerah Swatantra Tingkat II Lombok Timur terbentuk pada tanggal 14 Agustus 1958 yaitu sejak di undangkannya Undang-Undang Nomor 64 Tahun 1958 dan Undang-Undang Nomor 69 Tahun 1958.

Pembentukan daerah Swatantra Tingkat II lombok Timur secara nyata dimulai dengan diangkatnya seorang Pejabat Sementara Kepala Daerah dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor UP.7/14/34/1958 tanggal 29 Oktober 1958 dan sebagai Pejabat Sementara Kepala Daerah ditetapkan Idris H.M. Djafar terhitung 1 Nopember 1958.

Setelah terbentuknya Daerah Swatantra Tingkat II Lombok Timur maka selambat-lambatnya dalam waktu 2 tahun PJS Kepala Daerah harus sudah membentuk Badan Legislatif (DPRD) yang akan memilih Kepala Daerah yang definitif. Dengan terbentuknya DPRD maka pada tanggal 29 Juli 1959 DPRD Lombok Timur berhasil memilih Anggota Dewan Pemerintah Daerah Peralihan yaitu Mamiq Djamilah, H.M. Yusi Muchsin Aminullah, Yakim, Abdul Hakim dan Ratmawa.

Dalam perkembangan berikutnya DPRD Daswati II Lombok Timur dengan keputusan Nomor 1/5/II/104/1960 tanggal 9 April 1960 mencalonkan dan mengusulkan L. Muslihin sebagai Kepala Daerah yang kemudian mendapat persetujuan pemerintah pusat dengan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor UP.7/12/41-1602 tanggal 2 Juli 1960. Dengan demikian L. Muslihin Bupati Kepala Daerah Lombok Timur yang pertama sebagai hasil pemilihan oleh DPRD Tingkat II Lombok Timur. Jabatan tersebut berakhir sampai 24 Nopember 1966.

Sejalan dengan pemerintahan di daerah maka berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I NTB tanggal 16 Mei 1965 Nomor 228/Pem.20/1/12 diadakan pemekaran dari 5 distrik menjadi 18 distrik (Kecamatan) yang membawahi 73 desa, yaitu Kecamatan Selong, Dasan Lekong, Tanjung, Suralaga, Rumbuk, Sakra, Keruak, Apitaik, Montong Betok, Sikur, Lendang Nangka, Kotaraja, Masbagik, Aikmel, Wanasaba, Pringgabaya, Sambelia dan Terara.

Dengan Surat Keputusan Mendagri Nomor UP.14/8/37-1702 tanggal 24 Nopember 1966 masa jabatan L. Muslihin berakhir dan diganti oleh Rahadi Tjipto Wardoyo sebagai pejabat Bupati sampai dengan 15 Agustus 1967. Selanjutnya dengan SK Mendagri Nomor UP.9/2/15-1138 tanggal 15 Agustus 1967 diangkatlah R.Roesdi menjadi Bupati Kepala Daerah Tingkat II Lombok Timur yang definitif. Pada masa pemerintahan R. Roesdi dibentuk alat-alat kelengkapan Pemerintah Daerah yaitu Badan Pemerintah Harian dengan anggota H.L.Moh. Imran, BA, Mustafa, Hasan, L. Fihir dan Moh. Amin.

Pada periode ini atas pertimbangan efisiensi dan rentang kendali pengawasan serta terbatasnya sarana dan prasarana maupun personil diadakanlah penyederhanaan kecamatan dari 18 menjadi 10 kecamatan yaitu Kecamatan Selong, Sukamulia, Sakra, Keruak, Terara, Sikur, Masbagik, Aikmel, Pringgabaya dan Sambelia.

Berdasarkan SK Menteri Dalam Negeri Nomor Pemda/7/18/15-470 tanggal 10 Nopember 1973 masa jabatan R. Roesdi selaku Bupati KDH Tingkat II Lombok Timur diperpanjang. Kemudian dengan berlakunya UU Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintah di Daerah, kedudukan Bupati dipertegas sebagai penguasa tunggal di daerah sekaligus sebagai administrator pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan. Pada periode ini dibentuk Sekretariat Wilayah/Daerah sebagai pelaksana UU Nomor 5 tahun 1974. Pemerintah kecamatan pada masa ini masih tetap 10 kecamatan sedangkan desa berjumlah 96 dengan rincian desa swakarsa 91, swadaya 2 dan swasembada 3 desa. Jumlah dinas 6 buah yaitu Dinas Pertanian Rakyat, Perikanan, Perkebunan, Kesehatan, PU dan Dispenda sedangkan instansi vertikal 19 buah.

Perkembangan selanjutnya yaitu pada periode 1979-1988 Bupati KDH Tingkat II Lombok Timur dijabat oleh Saparwadi yang ditetapkan melalui SK Menteri Dalam Negeri Nomor Pem.7/4/31 tanggal 7 Februari 1979, jabatan ini dipangku selama 2 periode namun berakhir sebelum waktunya karena meninggal dunia 13 Maret 1987. Pada periode ini terjadi pergantian Sekwilda dari Moh. Amin kepada Drs. L. Djafar Suryadi. Oleh karena meninggalnya Saparwadi maka oleh Gubernur NTB Gatot Suherman menunjuk Sekwilda H. L. Djafar Surayadi sebagai Pelaksana Tugas Bupati Lombok Timur dengan SK Nomor 314 tahun 1987 tanggal 21 Desember 1987.

Kemudian dengan keputusan DPRD Nomor 033/SK.DPRD/6/1988, DPRD berhasil memilih calon Bupati Kepala Daerah yaitu Abdul Kadir dengan 36 suara, H.L.Ratmawa 5 suara dan Drs. H. Abdul Hakim 4 suara, dengan demikian maka Abdul Kadir berhak menduduki jabatan sebagai Bupati Lombok Timur sesuai SK Mendagri Nomor 131.62-556 tanggal 13 Juli 1988, jabatan ini berakhir sampai tahun 1993. Pada tahun 1989 terjadi pergantian Sekwilda dari Drs. Djafar Suryadi kepada Drs. H. L. Fikri yang dilantik 23 Nopember 1989.

Periode berikutnya tahun 1993-1998 Bupati Lombok Timur dijabat Moch. Sadir yang ditetapkan dengan SK Menteri Dalam Negeri Nomor 131.61-608 tanggal 3 Juli 1993 dan dilantik 28 Juli 1993. Pada masa kepemimpinan nya dibangun Wisma Haji Selong, Taman Kota Selong, Pintu Gerbang Selamat Datang serta Kolam Renang Tirta Karya Rinjani. Pada periode ini H.L. Fikri selaku Sekwilda ditarik ke Propinsi untuk sementara menunggu Sekwilda yang definitif ditunjuklah Moch. Aminuddin,BA Ketua BAPPEDA saat itu sebagai Pelaksana Tugas Sekwilda sampai dengan dilantiknya H. Syahdan, SH.,SIP. sebagai Sekwilda definif berdasarkan SK Menteri Dalam Negeri Nomor 862.212.2-576 tanggal 8 Februari 1996.

Ditengah situasi negara yang sedang dilanda berbagai krisis dan berhembusnya era reformasi yang ditandai berhentinya Soeharto sebagai Presiden RI pada bulan Mei 1998, bulan Agustus 1998 DPRD Dati II Lotim berdasarkan hasil Pemilu 1997 megadakan pemilihan Bupati Lombok Timur masa bakti 1999-2003. Tiga calon Bupati saat itu adalah H. Moch. Ali Bin Dachlan, SH,Achman Muzahar, SH dan H. Syahdan, SH.,SIP. Dalam pemilihan itu H. Syahdan, SH.,SIP. terpilih sebagai Bupati dengan memperoleh suara 23, H. Moch. Ali Bin Dachlan, SH, meperoleh 21 suara sedangkan Achman Muzahar, SH tidak mendapat suara.

Pada kepemimpinan H. Syahdan, SH jabatan Sekretaris Daerah (Sekda) dijabat oleh H. L. Kamaluddin, SH yang dilantik berdasarkan SK Menteri Dalam Negeri Nomor 862.212.2-2145 tanggal 26 Mei 1999. Sebagai dampak bergulirnya era reformasi pada tahun 1999 dilaksanakan pemilihan umum diseluruh Indonesia termasuk di Kabupaten Lombok Timur yang diikuti banyak partai politik. Dari hasil Pemilu 1999 di Lombok Timur berhasil membentuk DPRD periode 1999-2004. Pada periode ini berlangsung suksesi kepemimpinan Bupati Lombok Timur. DPRD berhasil menetapkan 5 pasangan calon Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah. Pada pemilihan yang berlangsung sangat demokratis ini berhasil terpilih H. Moh. Ali Bin Dachlan sebagai Bupati Lombok Timur dan H. Rachmat Suhardi, SH sebagai Wakil Bupati Lombok Timur untuk masa bakti 2003-2008. Pasangan Kepala Daerah dan wakil Kepala Daerah ini dilantik oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor : 131.62-462 Tahun 2003 dan Nomor: 132.62-463 Tahun 2003 tertanggal 27 Agustus 2003.

Tahun 2004 berlangsung pemilihan umum anggota DPR/DPD, DPRD I, DPRD II, termasuk Pemilu Presiden dan Wakil Presiden. Untuk Kabupaten Lombok Timur berhasil terbentuk DPRD Periode 2004-2009 dan dilantik pada tanggal 5 Agustus 2004, sedangkan Pimpinan DPRD dilantik pada tanggal 18 Mei 2005 dengan Ketua H. M. Syamsul Luthfi, SE, Wakil Ketua TGH. Nasruddin dan H. Syamsuddin Gahtan. Pada tahun 2006 berlangsung pergantian jabatan Sekretaris Daerah dari H. L. Kamaluddin, SH kepada penggantinya L. Nirwan, SH.

Pada tanggal 7 Juli 2008 Lombok Timur melaksanakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang menetapkan 3 (tiga) pasangan Calon Kepala Daerah. Berdasarkan hasil rapat rekapitulasi perhitungan suara oleh KPUD Lotim, pasangan H.M. Sukiman Azmy dan H.M. Syamsul Luthfi (SUFI) meraih suara terbanyak yakni 49,90 persen suara. Berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor : 131.52 - 650 Tahun 2008 pasangan Kepala Daerah dan wakil Kepala Daerah ini dilantik oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat sebagai Bupati dan Wakil Bupati Lombok Timur masa bhakti 2008-2013.

INFORMATION ABOUT THE GILI ISLANDS

Arcing away from the northwest corner of Lombok, the Gili Islands are three idyllic atolls where the sand is still powdery white, the water a clear sparkling turquoise, and the sunsets over Bali’s Agung in the west simply spectacular.

Home to the largest Irish bar on the smallest island in the world, an authentic Japanese sushi restaurant, a turtle hatchery, ominous sounding dive sites like ‘Shark Point’ and miles and miles of white sandy beaches, Lombok’s Gilis, make a surprisingly ideal getaway destination. Getting there is easy and whichever way you chose, you will be guaranteed to see some of Bali and Lombok’s breathtaking scenery.

gili islands picture

No motorised transport

Fortunately all three Gili Islands will not permit any type of motorised transport on them and therefore rely on bicycles or horse and carts, locally known as ‘Cidomos’. Bicycles can be rented from any of the kiosks and cost from around Rp20,000 an hour, or better value, ask for the daily rate. Cidomos (local horse and carts) are easily located all over the islands but tend to hang around the harbour and busy spots, arrangements can be made if you are staying in a more remote place on the island, for instance a late ride home…. Haggling is the norm, and always agree a price before your journey.

Families

Although originally discovered by backpackers in the mid eighties, and with a reputation as a party destination, the Gilis now boasts themselves as a great destination suitable for families of all ages. Various new hotels, luxury villas, and boutique bungalows now cater for children and offer good value, some have baby sitting services, and with lots of activities on the islands families are sure to enjoy their holidays to the full.

Gili Air children Gili Meno local transport The Gili islands map

Swimming and Snorkeling

The best places for snorkeling and swimming are along the main beach areas,
Masks
, fins and snorkels can be rented by the hour or day, from any of the 7 PADI and SSI dive centers or the kiosks in the street. Glass bottom boat trips around the three Gili islands are available and cost around 150,000rp per person. You can see all types of marine life just by snorkeling including many fishes and corals and of course lots of turtles, but please be careful not to touch the coral.

Please Note; Do not try to swim between any of the 3 Gili islands as the currents in the channel can be unpredictable and very strong.


Money matters

There is now an ATM machine at Hotel Villa Ombak on Gili Trawangan open 24 hours, all the dive centers and bigger hotels accept Visa and MasterCard credit cards with an additional 3% bank charge, cash advances at 10% are available in many places. Money changers will cash traveler’s checks and currency but at a much lower reduced rate than on the mainland.

Swimming and snorkelling in the gilis Snorkelling trips around gili Gili Meno picture perfect beaches

Electricity

All three Gilis islands do now have their own PLN electric generating stations and in theory should have power 24 hours a day, however in the peak seasons this can be put under strain particularly late afternoon and early evening. A large number of businesses now have their own generators such as the larger hotels and restaurants so as to avoid the problem, and usually power cuts or ‘mati lampu’ only last a few hours, although sometimes can last up to a few days.


Communication

There are a number of internet cafes on Gili Trawangan, Gili Meno and Gili air all charging approximately the same, (around Rp500 per minute) although all operate at different speeds. For telephone calls the best place to use is the shops called Wartel, located next to the art market on Trawangan, at the Ozzy shop on Meno, and behind Villa Karang on Gili Air.


Crime, safety and health

Generally there is very little crime on the Gili islands, however no where is 100% free of petty crime. As with any where in the world you travel its best to leave your valuables in your room, and ideally in your hotel safe. If you do have any problems on the island report them to the Head of the Island (Kepala Desa) at the Satgas office, located opposite the Harbour. There is a new 24 hours clinic at Hotel Vila Ombak on Gili Trawangan that has a doctor and nurse on call that can deal with minor injuries and problems, and can also dispense certain prescription drugs.

Gili Meno holidays Coco restaurant and coffee shop Gili sunsets over Bali

Water

Most businesses rely on well water for showers and bathrooms, some places are now importing fresh water from the mainland Lombok. Some hotels have the option of fresh water mandi after a well water shower. All fresh water is brought to the islands by small fishing boats from Lombok - in the unlikely event the water cannot timeously be delivered guests will need to use the well water. The delays can be due to the tides being to low and the delivery boat not being able to get over the reef or the seas being too rough.

So Please
use the islands water resources sparingly!

If your holiday is planned and it is to revolve around fresh water & power please do not think about making a booking on any of the 3 islands as services are not guaranteed...the Gili islands are very much grass roots with really very little development......this just will not be your type of holiday...embrace simplicity as there are few places in this world that are easy to access, but where you can still have a remote experience.


The Wallace line

Sir Alfred Russel Wallace, the so-called father of animal geography, formulated his ideas on evolution by natural selection while observing and collecting wildlife in the islands of Southeast Asia. He was particularly impressed by the sudden difference in bird families he encountered when he sailed only twenty miles east of the island of Bali and landed on Lombok.

On Bali the birds were clearly related to those of the larger islands of Java and Sumatra and mainland Malaysia. On Lombok the birds were clearly related to those of New Guinea and Australia. He marked the channel between Bali and Lombok as the divide between two great zoo geographic regions, the Oriental and Australian.

In his honor this dividing line, which extends northwards between the islands of
Borneo and Sulawesi, is still referred to today as Wallace's Line.

The very first island of the Australasian region is Gili Trawangan.

Pulau Lombok

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari
Lombok
Lombok.gif
IndonesiaLombok.png
Peta lokasi pulau Lombok
{{{peta2}}}
Koordinat {{{koordinat}}}
Negara Indonesia
Gugus kepulauan Nusa Tenggara
Provinsi {{{provinsi}}}
{{{jenisdati2}}} {{{dati2}}}
Garis pantai ? km
Luas 5.435 km² (108)
Populasi 2.722.123 (2001)[1]
Kota terbesar {{{kota terbesar}}}
(?)

Pulau Lombok (jumlah penduduk pada tahun 2001: 2.722.123 jiwa)[1] adalah sebuah pulau di kepulauan Sunda Kecil atau Nusa Tenggara yang terpisahkan oleh Selat Lombok dari Bali di sebelat barat dan Selat Alas di sebelah timur dari Sumbawa. Pulau ini kurang lebih berbentuk bulat dengan semacam "ekor" di sisi barat daya yang panjangnya kurang lebih 70 km. Luas pulau ini mencapai 5.435 km², menempatkannya pada peringkat 108 dari daftar pulau berdasarkan luasnya di dunia. Kota utama di pulau ini adalah Kota Mataram.

Daftar isi

[sembunyikan]

[sunting] Pembagian administratif

Foto infra merah dari satelit memperlihatkan pulau Lombok dengan kawah Gunung Rinjani

Lombok termasuk provinsi Nusa Tenggara Barat dan pulau ini sendiri dibagi menjadi 4 kabupaten dan 1 kotamadya:

[sunting] Geografi

Selat Lombok menandai batas flora dan fauna Asia. Mulai dari pulau Lombok ke arah timur, flora dan fauna lebih menunjukkan kemiripan dengan flora dan fauna yang dijumpai di Australia daripada Asia. Ilmuwan yang pertama kali menyatakan hal ini adalah Alfred Russel Wallace, seorang Inggris di abad ke-19. Untuk menghormatinya maka batas ini disebut Garis Wallace.

Topografi pulau ini didominasi oleh gunung berapi Rinjani yang ketinggiannya mencapai 3.726 meter di atas permukaan laut dan menjadikannya yang ketiga tertinggi di Indonesia. Gunung ini terakhir meletus pada bulan Juni-Juli 1994. Pada tahun 1997 kawasan gunung dan danau Segara Anak ditengahnya dinyatakan dilindungi oleh pemerintah. Daerah selatan pulau ini sebagian besar terdiri atas tanah subur yang dimanfaatkan untuk pertanian, komoditas yang biasanya ditanam di daerah ini antara lain jagung, padi, kopi, tembakau dan kapas.

[sunting] Demografi

Peta bahasa di pulau Lombok

Sekitar 80% penduduk pulau ini adalah suku Sasak, sebuah suku bangsa yang masih dekat dengan suku bangsa Bali, tetapi sebagian besar memeluk agama Islam. Sisa penduduk adalah orang Bali, Jawa, Tionghoa dan Arab.

[sunting] Bahasa

Disamping bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, penduduk pulau Lombok (terutama suku Sasak), menggunakan bahasa Sasak sebagai bahasa utama dalam percakapan sehari-hari. Di seluruh Lombok sendiri bahasa Sasak dapat dijumpai dalam empat macam dialek yang berbeda yakni dialek Lombok utara , tengah, timur laut dan tenggara. Selain itu dengan banyaknya penduduk suku Bali yang berdiam di Lombok (sebagian besar berasal dari eks Kerajaan Karangasem), di beberapa tempat terutama di Lombok Barat dan Kotamadya Mataram dapat dijumpai perkampungan yang menggunakan bahasa Bali sebagai bahasa percakapan sehari-hari.

[sunting] Agama

Sebagian besar penduduk pulau Lombok terutama suku Sasak menganut agama Islam. Agama kedua terbesar yang dianut di pulau ini adalah agama Hindu, yang dipeluk oleh para penduduk keturunan Bali yang berjumlah sekitar 15% dari seluruh populasi di sana. Penganut Kristen, Buddha dan agama lainnya juga dapat dijumpai, dan terutama dipeluk oleh para pendatang dari berbagai suku dan etnis yang bermukim di pulau ini.

Di Lombok Barat bagian utara, tepatnya di daerah Bayan, terutama di kalangan mereka yang berusia lanjut, masih dapat dijumpai para penganut aliran Islam Wetu Telu (waktu tiga). Tidak seperti umumnya penganut ajaran Islam yang melakukan shalat lima kali dalam sehari, para penganut ajaran ini mempraktikan shalat wajib hanya pada tiga waktu saja. Konon hal ini terjadi karena penyebar Islam saat itu mengajarkan Islam secara bertahap dan karena suatu hal tidak sempat menyempurnakan dakwahnya.

[sunting] Sejarah

Bentuk lumbung padi khas pulau lombok

Menurut isi Babad Lombok, kerajaan tertua yang pernah berkuasa di pulau ini bernama Kerajaan Laeq (dalam bahasa sasak laeq berarti waktu lampau), namun sumber lain yakni Babad Suwung, menyatakan bahwa kerajaan tertua yang ada di Lombok adalah Kerajaan Suwung yang dibangun dan dipimpin oleh Raja Betara Indera. Kerajaan Suwung kemudian surut dan digantikan oleh Kerajaan Lombok. Pada abad ke-9 hingga abad ke-11 berdiri Kerajaan Sasak yang kemudian dikalahkan oleh salah satu kerajaan yang berasal dari Bali pada masa itu. Beberapa kerajaan lain yang pernah berdiri di pulau Lombok antara lain Pejanggik, Langko, Bayan, Sokong Samarkaton dan Selaparang.

Kerajaan Selaparang sendiri muncul pada dua periode yakni pada abad ke-13 dan abad ke-16. Kerajaan Selaparang pertama adalah kerajaan Hindu dan kekuasaannya berakhir dengan kedatangan ekspedisi Kerajaan Majapahit pada tahun 1357. Kerajaan Selaparang kedua adalah kerajaan Islam dan kekuasaannya berakhir pada tahun 1744 setelah ditaklukkan oleh gabungan pasukan Kerajaan Karangasem dari Bali dan Arya Banjar Getas yang merupakan keluarga kerajaan yang berkhianat terhadap Selaparang karena permasalahan dengan raja Selaparang. [2]. Pendudukan Bali ini memunculkan pengaruh kultur Bali yang kuat di sisi barat Lombok, seperti pada tarian serta peninggalan bangunan (misalnya Istana Cakranegara di Ampenan). Baru pada tahun 1894 Lombok terbebas dari pengaruh Karangasem akibat campur tangan Batavia (Hindia Belanda) yang masuk karena pemberontakan orang Sasak mengundang mereka datang. Namun demikian, Lombok kemudian berada di bawah kekuasaan Hindia Belanda secara langsung.

Masuknya Jepang (1942) membuat otomatis Lombok berada di bawah kendali pemerintah pendudukan Jepang wilayah timur. Seusai Perang Dunia II Lombok sempat berada di bawah Negara Indonesia Timur, sebelum kemudian pada tahun 1950 bergabung dengan Republik Indonesia.

[sunting] Pariwisata

Cidomo, alat transportasi tradisional di pulau lombok, sarana transportasi utama di daerah pedesaan

Lombok dalam banyak hal mirip dengan Bali, dan pada dasawarsa tahun 1990-an mulai dikenal wisatawan mancanegara. Namun dengan munculnya krisis moneter yang melanda Indonesia pada akhir tahun 1997 dan krisis-krisis lain yang menyertainya, potensi pariwisata agak terlantarkan. Lalu pada awal tahun 2000 terjadi kerusuhan antar-etnis dan antar agama di seluruh Lombok sehingga terjadi pengungsian besar-besaran kaum minoritas. Mereka terutama mengungsi ke pulau Bali. Namun selang beberapa lama kemudian situasi sudah menjadi kondusif dan mereka sudah kembali. Pada tahun 2007 sektor pariwisata adalah satu-satunya sektor di Lombok yang berkembang.

[sunting] Destinasi objek pariwisata

BIL Belum Bisa Terbangkan JCH NTB Tahun 2010

Mataram (Global FM Lombok) –

Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) NTB, Drs. Ahmad Baharuddin, mengatakan, pembangunan ruang Very Important Person (VIP) Bandara Internasional Lombok (BIL) sudah mulai dikerjakan. Bangunan VIP yang menjadi tanggungjawab Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB itu, akan bisa diselesaikan paling lambat 5 bulan kedepan. Pembangunan terminal haji dan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) belum bisa dilakukan, tapi ditargetkan rampung dibangun pada tahun 2010 ini.


” Dengan demikian, BIL belum bisa menerbangkan Jemaah Calon Haji (JCH) asal NTB untuk perdana kalinya tahun ini. Tapi, dipastikan tahun 2011 mendatang, BIL sudah siap menerbangkan JCH NTB. ” kata Kabag Humas dan Protokoler Setda NTB, L. M. Faozal, S.Sos, M.Si, kepada wartawan, di ruang kerjanya, Rabu (26/5).

Faozal mengungkapkan, pembangunan apron (parkir pesawat), tax way, pemagaran keliling, tower, terminal, parkir kendaraan, akses jalan dan lain sebagainya sedang dalam pengerjaan. Bangunan utama BIL juga masih dalam pengerjaan BUMN PT. (Persero) Hutama Karya. Dalam waktu dekat, PT. Hutama Karya, PT. Angkasa Pura (AP), Pemkab Loteng, Pemkab Lobar dan seluruh pihak terkait akan melakukan ekspose atas hasil pembangunan yang sudah dilakukan di masing – masing sector.

” Eskpose dan tinjauan langsung ke BIL itu akan dipimpin Asisten II Setda NTB, H. M. Nur, SH, MH, ditemani Karo Keuangan Setda NTB, H. Awaluddin dan pejabat pemprov lainnya. ” tambahnya.

Sebelumnya, Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda NTB, H. M. Nur, SH, MH, mengungkapkan, jalan akses Bandara Internasional Lombok (BIL) akan mulai dikerjakan pada pertengahan atau tanggal 15 juni 2010 mendatang. Dua paket pengerjaan jalan itu, yakni paket I dan II sudah ditenderkan dan sudah ada pemenang tendernya.

Selanjutnya, paket III akan segera ditenderkan, agar pembangunan jalan akses BIL bisa segera rampung pada bulan Desember mendatang. Pembebasan lahan atau pemindahan rumah penduduk di Kabupaten Lombok Barat (Lobar) sudah tidak ada masalah. Tapi, pembebasan lahan di kabuapaten Lombok Tengah (Loteng) masih mengalami beberapa kendala, sehingga ditargetkan bisa diselesaikan hingga pertengahan juni mendatang
Ada Bali di Lombok, Kuta, Gerabah, dan BIL Jadi Andalan
Hiburan & Wisata - Kamis, 25 September 2008 15:57:43 WIB


Di Lombok Anda bisa menemukan Bali, tapi di Bali Anda tidak bisa menemukan Lombok. Begitu penilaian sejumlah orang perihal Lombok usai berwisata, sejak dulu. Benarkah begitu? Lalu apa yang dimiliki Lombok dan tak ada di Bali?


Sewaktu menginjakkan kaki di Bandara Internasional Selaparang, Mataram, Lombok, kesan Lombok berbeda dengan Bali sudah mulai terasa. Langit bandara dan Mataram ketika itu biru, awannya berawan putih seolah berada di negeri awan.

Dan ketika menyusuri Lombok lebih jauh, ternyata anggapan itu bukan isapan jempol. Lombok ternyata puya daya pikat luar biasa yang tidak dimiliki Bali. Di pulau terbesar kedua setelah Sumbawa yang menjadi bagian dari wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) ini, ternyata bukan hanya memiliki Kawasan Pantai Senggigi, Tiga Gili, dan Gunung Rinjani yang sudah memancanegara. Melainkan juga sejumlah obyek wisata lain yang potensial menjaring lebih banyak lagi wisnus dan wisman di kemudian hari.

Terlebih kini tengah dibangun Bandara Internasional Lombok (BIL) di Desa Tanak Awu, Kabupaten Lombok Tengah. BIL dibangun untuk menggantikan Bandara Selaparang di Mataram yang sudah tak mampu lagi memenuhi pertumbuhan penumpang dan frekuensi penerbangan ke pulau itu. Ada juga yang menyebutkan, pembangun BIL ini sebagai salah satu syarat Emaar Properties dari Dubai selaku calon investor yang akan mendanai proyek mega wisata seluas 1.250 hektar di Lombok Tengah bagian Selatan.

Luas BIL mencapai 535 hektar atau dua kali lebih luas daripada Bandara Internasional Ngurah Rai di Bali. Biaya pembangunannya sebesar Rp 665 miliar. Ditargetkan mulai beroperasi awal 2010.

Ada Kuta Berpasir Merica

Mendengar nama Pantai Kuta (baca: Kute), pasti yang terekam di benak kita pantai tersohor yang (hanya) ada di Pulau Dewata Bali. Padahal di Lombok pun ada pantai indah yang juga bernama Kuta.

Kendati sama-sama bernama Kuta, jelas pesona keduanya berbeda. Bila Pantai Kuta di Bali berpasir sebagaimana umumnya pantai lainnya, lembut dan putih. Lainnya halnya dengan pasir Pantai Kuta Lombok. Butiran pasirnya seperti merica berwarna putih yang menghampar di sepanjang bentangan pantainya.

Konon pasir berbentuk merica itu berasal dari butiran karang tempat nyale atau cacing laut bersarang. Nyale-nyale yang jumlah miliaran itu membuat sarang di karang-karang putih dengan cara melubangi karang. Sisa galian nyale itu berbentuk butiran-butiran pasir yang kemudian dihanyutkan ombak ke pantai.

Lantaran berbentuk seperti butiran-butiran seperti merica, banyak warga dan pengunjung pantai ini menganggap lebih nyaman saat diinjak tanpa alas kaki dan bermanfaat memperlancar sirkulasi darah. Keistimewaan pantai ini (lagi), setiap setahun sekali digelar Festival Bau Nyale atau mencari nyale. Dan sekali lagi hanya ada di Kuta Lombok bukan Bali.

Bedanya lagi, kalau di Kuta Bali kondisinya sangat ramai dengan wisatawan sehingga agak sulit mendapatkan suasana yang lebih privacy, tenang, dan asri. Berbeda dengan Kute Lombok, suasananya lebih tenang dengan suguhan alam yang jauh lebih memikat. Pantainya dilataribelakangi perbukitan dan bukit karang yang menghijau, airnya bening dan aman untuk direnangi. Pengunjungnya masih sepi. Yang ada hanyalah sejumlah anak, penjual cendera mata yang "gigih" menawarkan dagangannya.

Pantai Kuta Lombok memang belum setenar Kuta Bali bahkan Pantai Senggigi di Lombok Barat. Namun dengan segala perbedaan dan keistimewaannya, pantai ini bakal menjaring wisnus dan wisman lebih banyak, kelak. Untuk menjangkau pantai ini dari Senggigi memakan waktu sekitar 2.5 jam, melalui Kota Mataram. Tapi Bila nanti BIL sudah beroperasi waktu tempuhnya jelas lebih singkat.

Sekitar 1,5 Km dari Pantai Kuta ada Hotel Novotel Coralia Lombok, hotel berbintang satu-satunya yang terdekat dengan Pantai Kuta. Pengunjung hotel ini kerap berwater sport atau sekadar berjemur dipantainya yang eksotis. Di dekat pantainya terdapat beberpa warung makan sederhana milik penduduk setempat yang juga menjyediakan air kelapa segar. Diprediksi sejumlah hotel baru dan rumah makan akan tumbuh bila BIL sudah benar beroperasi.

Toleransi Sejati di Pura Lingsar

Selain pantai yang bernama sama seperti di Bali. Di Lombok juga terdapat sejumlah pura. Salah satunya Pura Lingsar yang terletak di Desa Lingsar, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat. Berjarak sekitar 9,5 km dari Kota Mataram atau lebih kurang 7 Km dari Cakranegara. Pura terbesar dan tertua di Lombok ini dibangun pada 1714 oleh Raja Anak Agung Ketut Karangasem. Konon nama lingsar berasal dari bahasa Sansekerta, ling berarti "sabda" dan sar bermakna "sah"" atau "jelas".

Pura Lingsar ada kaitan erat dengan sejarah kedatangan ekspedisi Anglurah Ketut Karangasem pada 1692 Masehi. Ketika sang anglurah bersemadi di Pura Panggung, Lombok Barat, ia mendapatkan petunjuk gaib guna mencari sebuah mata air yang bernama atis toya hengsar ke arah Timur laut dari tempat tersebut.

Saat beristirahat di dekat kawasan yang dituju, ia dikejutkan suara gemuruh dari Selatan hutan. Lalu ia menuju ke arah itu dan mendapatkan mata air tersebut. Akhirnya, ia membangun pura yang kemudian dinamakan Pura Lingsar.

Luas keseluruhan kawasan Pura Lingsar beserta tamannya sekitar 26,663 hektar. Terbagi menjadi beberapa bagian yakni komplek "kolam kembar" (bagian paling depan), halaman taman bagian atas, halaman bencingah (bagian bawah depan kemaliq), kelompok bangunan pura (Ulon dan Gaduh) berpagar tembok, kelompok bangunan kemaliq (termasuk pasiraman), telaga ageng (kolam besar dan panjang, terletak di sebelah Selatan), dan pancoran sembilan (tempat pemandian) dan sekitarnya.

Salah satu ciri khas areal Pura Lingsar adalah adanya mata air yang sangat besar dan melimpah. Mata air itu dalam bahasa Bali disebut Telaga Ageng, sedangkan bahasa Sasaknya aik mual. Aik berarti "air" dan mual bermakna "melimpah keluar". Oleh karenanya Pura Lingsar kerap disebut oleh warga Suku Sasak dengan sebutan Pura Aik Mual.

Yang membedakan pura ini dengan pura lainnya di Bali selain kekhasan dan keunikan secara arsitektur, juga karena adanya Pura Ulon dan Pura Gaduh tempat persembahyangan umat Hindu dan di dalamnya terdapat pula bangunan suci kemaliq yang dipuja pula dan dihormati keberadaannya oleh Suku Bali yang beragama Hindu dan Suku Sasak yang menganut Islam. Konon kemaliq juga banyak dikunjungi warga Tionghoa, umumnya yang beragama Buddha dan Kong Fu Tse.

Bila Anda datang akhir November atau saat Desember, di Desa Lingsar digelar Perang Topat yang diadakan oleh umat Hindu dan Islam sebagai tanda terimakasih kepada Tuhan YME atas berkah yang diberikan selama setahun. Dalam acara budaya tahunan ini masyarakat saling melempar ketupat satu sama lain mulai pukul 16.30 sore saat bunga waru rontok dari rantingnya.

Bila ada upacara keagamaan di pura ini, masyarakat yang berbeda agama turun membantu. Dengan begitu Pura Lingsar bukan sekadar tempat beribadah sekaligus obyek wisata sekaligus bukti nyata adanya toleransi sejati antaragama sejak lama di Lombok.

Gerabah Khas Lombok

Di Bali Anda mungkin bisa menyaksikan sejumlah gerabah atau tembikar yang ternyata berasal dari Lombok. Tapi bila Anda datang langsung ke Lombok. Anda bukan cuma melihat bermacam gerabah khas Lombok di toko souvenir dan membelinya dengan harga yang lebih murah, melainkan juga dapat menyaksikan langsung proses pembuatannya, mulai dari menggali tanah liat, menjemurnya lalu dicampur air dan pasir. Kemudian diolah menjadi gerabah dengan peralatan sederhana sampai proses pembakaran secara tradisional yang disebut tenunuq lendang atau pembakaran di tengah kebun dengan kayu kering dan jerami.

Masyarakat Sasak sejak lama akrab dengan gerabah. Hal ini dikisahkan dalam cerita rakyat Dewi Anjani. Suatau ketika Dewi Anjani mengirim manuk bre, burung pembawa pesan untuk menolong sepasang manusia yang kebingungan menanak beras. Kemudian sang Dewi mengajari mereka mengolah tanah gunung menjadi periuk.

Hingga kini kerajinan gerabah masih menjadi bagian hidup lebih dari 10.000 perajin yang tersebar di Lombok. Ada 3 desa sentra perajin gerabah, yaitu Desa Banyumulek di Lombok Barat, Masbagik Timur di Lombok Timur, dan Desa Penujak di Lombok Tengah. Dari 11 dusun di Desa Banyumulek, ada 4 dusun sentra gerabah yakni di Banyumulek Barat, Banyumulek Timur, Gubug Baru, dan Muhajirin.

Gerabah Lombok selama ini mendominasi Bali. Sekitar 75 persen produk gerabah yang dibuat di Lombok dijual di Bali. Sementara sisanya 25 persen dijual di Lombok atau diekspor. Ada 28 negara yang menjadi tujuan pasar gerabah Lombok antara lain AS, Belanda, Italia, dan Selandia Baru. Sayangnya perdagangan gerabah Lombok masih tergantung terhadap Bali sebagai "pintu gerbang".

Bisa jadi kelak, setelah BIL beroperasi, ketergantungan itu tak ada lagi. Kendati gerabah Lombok bersaing dengan gerabah Pleret dan Kasongan (dalam negeri) serta gerabah Thailand (luar negeri). Namun gerabah Lombok punya daya saing tersendiri. Kandungan pasir kuarsanya cukup tinggi, kaolinnya pun bagus, dan yang terpenting sudah dilengkapi sertifikat tidak beracun sehingga aman sebagai wadah makanan maupun minuman.